Sejak 2008, Jepang telah lama merintis rencana untuk mengekspor teknologi kereta api berkecepatan tinggi Shinkansen
kepada Indonesia. Ketika Festival Persahabatan Indonesia-Jepang digelar
pada bulan November 2008, Jepang memamerkan teknologi Shinkansen milik
mereka untuk memukau khalayak Indonesia.[8] Skema pendanaan melalui pinjaman lunak telah diusulkan oleh JICA untuk membangun kereta kecepatan tinggi yang menghubungkan koridor padat penduduk di pulau Jawa; dari ibu kota Jakarta menuju Surabaya (sepanjang 730 km).[9][4] Kini pulau Jawa tengah mengalami masalah yang sama seperti yang pernah dialami pulau Honshu
sebelum dibangunnya jaringan kereta cepat; yaitu kepadatan dan
kemacetan akibat tingginya volume transportasi barang dan penumpang.[10]
Gagasan pembangunan jaringan kereta berkecepatan tinggi telah
dicetuskan sejak beberapa tahun lalu. Belakangan muncul proposal baru
yang membagi proyek menjadi beberapa tahap; dengan tahap pertama
menghubungkan Jakarta dengan Bandung,
menempuh jarak 150 kilometer dalam tempo kurang lebih 35 menit. Hal ini
memangkas waktu tempuh kereta konvensional dari 3 jam menjadi kurang
dari satu jam. Biaya ditaksir akan menghabiskan dana sebesar 50 triliun rupiah.
Studi kelayakan JICA secara rinci telah rampung pada 2014, setelah
menindaklanjuti studi awal pada tahun 2012. Pada tahun 2013 Indonesia
mengalami kebangkitan dan perkembangan pembangunan infrastruktur kereta api,
di mana dalam beberapa tahun terakhir jaringan rel diperbaiki,
ditambah, dan ditingkatkan. Ide pembangunan koridor kereta api
berkecepatan tinggi telah diusulkan, namun ditunda dengan alasan
pembiayaannya terlalu mahal.
Jepang — dengan reputasinya sebagai produsen kereta api unggul kelas
dunia — sepertinya dipastikan akan dengan mudah memenangi kontrak kereta
cepat di Indonesia. Akan tetapi, semua itu berubah pada April 2015,
ketika Tiongkok turut serta bersaing dengan memberikan penawaran
balasan.[11]